Dalam tulisan kali ini saya ingin menulis perihal kisruh yang masih melanda organisasi sepakbola kita (PSSI). Judul diatas terinspirasi dari kasus peretasan blog milik Presiden SBY beberapa waktu lalu oleh Wildan. Saya akan coba meretas kisruh yang melanda PSSI dengan cara memberikan pendapat dan pikiran saya terhadap indikasi-indikasi permasalahan yang ada. Mudah-mudahan apa yang bisa saya sampaikan bisa memberikan manfaat bagi kita semua, terutama PSSI, Menpora, KPSI dan stakeholder lainnya yang teribat langsung dalam kisruh ini.
Dalam kesempatan ini saya coba meretas kisruh yang melanda PSSI dari acara Talkshow Mata Najwa yang telah ditayangkan di salah satu tv Swasta. Dari pernyataan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin terlontar kata-kata “pembiaran”, dalam konteks ini yang dimaksudkan adalah Pemerintah melalui Kemenpora memberikan peluang terjadinya organisasi tandingan sebagai oposisi dari organisasi resmi yang diakui oleh FIFA dan Pemerintah sendiri.Makna “pembiaran” ini jika ditelaah dan dikomparasikan dengan beberapa kasus yang mewarnai kisruh PSSI menyimpan pesan yang beragam tetapi semakin memperkuat fakta bahwa hal tersebut benar adanya. Saya rasa pemerhati dan masyarakat yang mengikuti perkembangan kisruh di PSSI ini mengetahui indikasi yang membuktikan bahwa “pembiaran” ini diberikan peluang untuk merongrong kinerja organisasi resmi yang diakui oleh Undang-undang di Negara ini dan FIFA tentunya.
Sudah banyak sekali indakasi pembiaran ini berlangsung semenjak kisruh ini terjadi yang ditandai dengan terbentuknya KPSI yang pendiriannya bertujuan untuk menyelamatkan sepakbola Indonesia. Tetapi seiring berjalannya waktu keberadaannya malah semakin mendorong iklim persepakbolaan Indonesia dalam krisis yang sangat mengkhawatirkan. Jika dirunut kronologis ini secara sistematis dari awal hingga sekarang, bisa dijadikan sebagai bahan skripsi atau tesis.
Indikasi “pembiaran” yang terkini dan bisa dilihat adalah pelarangan pemain sepakbola yang bermain di ISL untuk membela nama bangsa di ajang international dalam Timnas Sepakbola Indonesia (PSSI). Pemerintah (Kemenpora) seharusnya bisa menekan pihak-pihak yang melarang pemain yang dipanggil (PSSI) untuk bisa membela Tim Nasional. Pemerintah seolah-olah berpangku tangan dan tidak berani menindak pihak-pihak yang melarang pemain untuk main untuk Timnas. Semua kita tahu, organisasi (KPSI) yang melarang pemain yang ada di ISL, bukanlah badan organisasi sepakbola yang tidak diakui oleh FIFA yang merupakan induk dari sepakbola di dunia.
Fakta ini seharusnya bisa dijadikan oleh pemerintah sebagai dasar untuk memaksa KPSI untuk melepas pemain yang berkompetisi di ISL untuk membela Timnas. Bahkan fakta ini bisa dijadikan dasar bagi pemerintah untuk membubarkan organisasi ini. Secara logika, terbentuknya organisasi maupun lembaga-lembaga di Negara ini, baik pemerintah maupun swadaya masyarakat. Memiliki tujuan akhir untuk memberikan kontribusi dan manfaat bagi Negara dan bangsa Indonesia. Apakah akal sehat kita bisa menerima, tindakan yang dilakukan KPSI melarang pemain membela Timnas. Bagi elemen bangsa ini yang masih memiliki rasa nasionalisme tentunya tidak bisa mentolerir perlakuan ini. Seharusnya pihak berwajib bisa menindaktegas pelaku-pelaku yang memberikan pelarangan. Terutama pemerintah dalam hal menpora yang bertanggung jawab langsung terhadap dunia olahraga di tanah air.
Ketidak berdayaan pemerintah ini bukanlah menjadi rahasia umum lagi. Politik dan sepakbola dalam kehidupan masyarakat Indonesia semenjak dahulu adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Aspek politis inilah yang menjadi faktor utama yang menjadi penghalang bagi pemerintah untuk bisa menekan KPSI agar tidak melarang pemain ISL untuk membela Timnas Indonesia. Indikasi pemerintah punya kepentingan tersendiri dalam kisruh sepakbola di Indonesia amatlah nyata.
Menpora yang sekarang dijabat oleh Roy Suryo, dalam memberikan sikap dan pandangannya dalam menginisiasi penyelesaian kisruh ini cenderung memberikan peluang dan celah semakin terjadinya “pembiaran” ini. Berdasarkan apa yang telah saya sampaikan diatas, saya yakin Menpora tidak akan berani membubarkan KPSI, meski secara sadar beliau tahu dan yakin jika KPSI dibubarkan pun Indonesia tidak akan dijatuhi sanksi oleh FIFA. Inilah indikasi utama bahwa aspek politis sangat kuat membentengi keberadaan KPSI dan memeliharanya sebagai sumber kisruh dalam sepakbola Indonesia.
Jangankan menpora, seorang presiden SBY pun tidak akan mampu melakukan tindakan pembubaran KPSI. Untuk bisa menekan dan memaksa KPSI untuk tidak melarang pemain membela Timnas. Saya yakin presiden pun tidak akan mampu memaksa KPSI. Aspek politis yang mengungkung para pemimpin bangsa kita ini, baik Presiden dan Menpora, telah membuat mereka menjadi tidak sadar bahwa tindakan pelarangan pemain membela Timnas adalah sebuah tindakan kriminal yang secara nyata ingin mempermalukan bangsa ini. Secara tidak langsung Presiden dan Menpora telah ikut memiliki andil untuk mempermalukan bangsa ini. Presiden dan Menpora bisa membuktikan mereka tidak membenarkan tindakan KPSI dengan cara berani menekan KPSI untuk melepas pemain ISL membela Timnas.
Ancaman Menpora terhadap PSSI, jika Timnas pada tanggal 6 Februari nanti dipermalukan oleh Timnas Irak. Adalah sebuah sikap yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pejabat Negara terhadap PSSI yang resmi dan diakui FIFA. Saya yakin Menpora pada saat mengeluarkan pernyataan ini dalam kondisi berpikir yang tidak sadar. Saya sependapat dengan Ketua PSSI, penyelesaian kisruh di PSSI saat ini syaratnya adalah berpedoman pada Undang-undang olahraga. Dan Saya Tidak yakin, Menpora secara sadar mau memakai undang-undang ini sebagai pedoman dalam penyelesaian kisruh di PSSI. Insting saya mengatakan bahwa pedoman yang akan digunakan Menpora dalam penyelesaian kisruh di PSSI adalah deal-deal politik yang akan menguntungkan kelompok kepentingan tertentu, termasuk kelompok politik sang Menpora, Yaitu Partai Demokrat.
Saran saya buat pak Menteri berpijaklah dibumi dengan cara menyelesaikan kisruh yang ada dengan memakai undang-undang olahraga. Jangan berpijak pada kepentingan yang lain, karena hal itu akan semakin memperdalam keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia. Bagi pembaca yang memiliki opini yang berseberangan dengan apa yang anda baca ini. Tidak ada gunannya anda menghujat tulisan ini apalagi bertindak sarkasme. Sadarlah dan berpikirlah secara sadar, bahwa banyak yang harus diperbaiki dalam kehidupan berbangsa kita. Berbeda pendapat itu adalah hal yang wajar, tetapi ingat janganlah bertindak yang dapat merugikan bangsa dan Negara. Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar